0

Merawat Diri Sendiri

 Image

Self-love, my liege, is not so vile a sin as self-neglecting.

– William Shakespeare’s Henry V

Saya rasa untuk kebanyakan perempuan, ketika kita berusaha untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, anak-anak, dan pasangan.. kita melupakan diri sendiri. Kita lupa bahwa kita ini adalah seorang individu diluar peran kita sebagai ibu, istri dan pengatur rumah tangga, bahwa kita memiliki eksistensi diri, baik secara batin maupun lahiriah. Begitu seringnya kita mengesampingkan diri di posisi terakhir, atau bahkan tidak ada di dalam daftar sama sekali.

Tolong diingat, jika kita ingin menjadi orang tua yang mawas diri, sebaiknya kita pun mawas dan peduli terhadap diri sendiri dan perawatan diri. Betul, membesarkan anak terutama balita, untuk beberapa tahun pertama, ada kalanya kita menempatkan diri menjadi urutan terakhir, mengurangi ego atau eksistensi diri ketika kita mengasuh anak, tapi TIDAK sampai pada titik dimana eksistensi kita menghilang sama sekali dari gambaran… Mengasuh dan mengurus rumah tangga adalah sebuah jalur tempuh yang harus kita jalani, berjalan loh ya… bukan berlari. Kita harus tetap memelihara dan merawat diri sendiri. Jika kita membiarkan diri terkuras habis, secara fisik, emosi dan spiritual, apa yang terjadi? Kita akan gampang terganggu, kita tidak bisa ‘hadir’ ketika bersama keluarga, dan kita juga akan mengalami kesulitan mengontrol emosi dalam mengasuh anak. I see some nodding heads there 🙂

Yes, i know what u’re all saying…Lalu gimana caranya? Bagaimana mempertahankan kesadaran diri di tengah-tengah kekacauan? karena tinggal bersama anak-anak, secara alami, artinya waktu tidur yang berkurang, kerjaan domestik yang menumpuk, dan banyak hal lainnya yang bahkan bisa terjadi sekaligus bersamaan.

Bagi saya, ada beberapa tingkat di dalam perawatan diri, dilihat dari manusia secara utuh. Pertama, bagaimana kita merawat tubuh kita? Apakah kita berolah raga secara rutin. mengkonsumsi makanan yang sehat dan seimbang gizinya, pergi ke dokter umum dan dokter gigi untuk cek berkala, dan mendapat cukup istirahat? jawabannya itu adalah kunci untuk mencari tahu apakah kita sudah merawat tubuh kita dengan baik. Terkadang kita butuh opini atau bahkan teguran dari orang luar untuk menyadari kita akan kebutuhan untuk merawat tubuh.

Kedua, bagaimana kita menjaga pikiran kita? Apa yang kita lakukan untuk merawat diri diluar sibuk memikirkan tentang pola asuh, rumah tangga, pendidikan anak? Apa yang menjadi passion kita sebelum memiliki anak? Apakah hal itu masih menjadi sesuatu yang menarik bagi kita? Jika tidak, apa yang menjadi ketertarikan kita sekarang?

Ketiga, bagaimana kita merawat sisi spiritual kita? Apakah melalui meditasi, shalat, menjadi bagian dari sebuah komunitas beragama, menjadi bagian dari komunitas yang mempunyai visi dan misi yang sama. Siapa yang menjadi sandaran kita dalam hidup, ketika anda butuh teman, atau seseorang yang sekedar mendengarkan curhatan anda? Siapa sahabat sejati anda? Hal-hal inilah yang menjadi nutrisi bagi sisi spiritual dan menjadi penopang dalam perjalanan hidup kita.

Ada beberapa orang tua yang sudah secara cermat membuat ritme bagi keseharian anak-anaknya, tapi lupa memasukkan pola perawatan diri ke dalamnya. Kita tidak mencoba meminta bantuan keluarga atau orang terdekat, kadang karena anak-anak tidak mau dititipkan pada orang lain saat kita perlu pergi ke dokter, atau pasangan kita sering bepergian, orang tua kadang tidak menganggap perawatan diri sesuatu yang penting karena hanya sekali anak-anak kita ada dalam fase balita..begitu banyak hal-hal yang menjadi pertimbangan.

Jika ada satu hal pada level fisik yang saya ingin para ibu (atau Ayah yang mengasuh anaknya) untuk selalu mengingatnya, yaitu tidur dan olahraga. Walaupun terkadang kita tidak bisa mengontrol waktu tidur kita, karena balita atau bayi yang terbangun di malam hari, cobalah untuk mendapat tidur yang cukup. Saya ingat ada teman yang pernah bercerita, setiap mendengar anaknya bermain dengan berteriak, dia selalu merasa terganggu dan akhirnya meluapkan emosinya pada sang anak. Padahal dia tahu, lumrah sekali untuk anak melakukan itu dan bahwa dia merasa emosi karena kurang tidur! Ada sebuah artikel tentang bagaimana kurangnya tidur, bisa menyebabkan depresi berat. Bagaimana dengan anda? Saya akan senang jika anda mau berbagi pendapat, cerita atau saran ketika anda dalam situasi seperti ini.

Dan untuk olahraga… entah itu yoga atau jogging sekitar kompleks, saya harap anda bisa melakukannya sendirian, tanpa ada anak-anak di sekeliling anda. Tidak perlu menjadi member gym atau mengikuti kelas yoga yang umumnya berharga di atas rata-rata. Cukup luangkan waktu 15 menit di pagi hari sebelum anak terbangun, dan bisa menggunakan me time anda untuk berolahraga (saya sendiri selalu berusaha melakukannya rutin sebelum shalat subuh) Waktu olahraga ini bisa ditambah dengan ketika kita berjalan pagi atau sore dengan anak, bersepeda keliling, melakukan pekerjaan domestic yang tentu saja membakar kalori!

Pada aspek spiritual, saya harap para ibu (dan sekali, ayah) bisa menemukan sebuah aktifitas atau dukungan yang bisa membantunya memenuhi kebutuhan ini. Untuk saya pribadi, shalat rutin dan mengkaji Al-Quran lebih dari cukup untuk menjadi nutrisi bagi sisi spiritual saya. Meditasi saat subuh, sesaat setalah shalat juga membantu saya mendapatkan ketenangan dan inner centering, ketika menghadapi konflik atau situasi dimana anak sedang moody. Tidak gampang memang pada awalnya, but its really worth to try.

Apapun yang akan anda lakukan dalam mencoba memperhatikan perawatan diri sendiri, please be gentle to yourself, mulai dengan langkah kecil yang memang sanggup anda lakukan. Coba dengan menulis 1 hal apa yang mau anda lakukan setiap pagi, saat bangun tidur, tulis di post-it dan tempel di tempat yang bisa anda lihat langsung setiap pagi. Good luck!

*gambar dari sini

0

Delapan Aspek dalam Membentuk Kultur Keluarga yang Sehat : Ritme (bag. I)

Ada banyak alasan untuk memiliki ritme dalam keseharian kita. Anak –anak di bawah 7 tahun sangat membutuhkan stabilitas, dan perlu tahu apa yang akan terjadi. Ritme membantu proses psikologi, seperti rasa kantuk dan rasa lapar. Ritme mengajarkan kepada anak-anak bahwa kehidupan rumah itu sebuah tempat yang aman dan orangtuanya bisa diandalkan. Ritme memberi keseimbangan dalam rumah. Ritme bertujuan menempatkan kita dalam konteks yang lebih besar seperti waktu dan musim.

Selain itu, bagi saya, hal terpenting dalam memiliki ritme di keluarga adalah sebagai cara untuk mengungkapkan nilai-nilai keluarga. Sebuah keluarga yang memiliki kebiasaan berkebun, misalnya tentu berbeda dengan keluarga pemusik. Ritme merupakan cara lain bagi kita, sebagai orangtua, untuk menyadari kehidupan keluarga seperti apa yang akan kita ciptakan. Apa dasarnya, apa misi kita dalam membesarkan anak. Awal tahun yang baru merupakan saat yang bagus untuk melihat kembali misi keluarga Anda. Jika tidak memiliki misi keluarga, momen ini juga bisa menjadi awal yang bagus untuk mempertimbangkan dan melaksanakannya.

Saya berbicara pada beberapa orang tua yang menyatakan bahwa membuat ritme itu hal yang sulit. Keluhan dan tantangan ritme bersumber pada beberapa hal:

1. Bahwa ritme terlalu dipaksakan dan dijadwal. Pendapat saya, bisa jadi mereka mencoba membangun ritme yang terlalu rumit. Padahal ritme, berbeda dengan jadwal per menit. Jika hidup yang Anda jalani saat ini adalah mengganti popok, tidur, makan karena Anda memiliki seorang anak dan anak kecil, ritme Anda adalah hal-hal itu. Tidak lebih, kecuali jika Anda pikir perlu menambahkan hal-hal mendasar ke dalamnya.

2. Bahwa ritme itu kaku. Saya pikir ritme justru fleksibel dan dapat berubah sewaktu-waktu, setiap hari dalam seminggu, dan seiring perayaan keagamaan, seiring musim dalam setahun. Ritme juga berubah seiring anak tumbuh dan perubahan kondisi keluarga.

3. Bahwa ritme itu sangat tidak menentu, namun yang tidak mereka katakan adalah ketidakpastian membuat mereka tidak mampu mengatur ritme bagi keluarga mereka.

Memang, langkah awal dalam pembuatan ritme bisa menjadi tantangan bagi para ibu. Kadang memang sulit untuk menjadi pemimpin dan menggerakkan anak dari tiap waktu ke waktu (seperti dari waktu makan ke waktu tidur siang). Namun kian hari, jika dilakukan secara rutin dan kontinyu, akan semakin terbiasa. Pada akhirnya, penolakan terhadap ritme akan berkurang.

Langkah awal ritme bisa berupa bangun pada saat yang sama setiap harinya dan makan pada saat yang sama setiap hari (sekali lagi, dengan tidak menekankan pada menit dan jam yang harus sama,tapi lebih kepada alurnya). Secara alami, kedua hal ini akan menjadikan waktu tidur siang dan tidur malam yang sama pula. Jika ingin anak-anak tidur lebih awal, maka waktu tidur siangnya pun harus lebih awal pula. Apabila ingin membuat keadaan seperti itu, maka yang harus Anda lakukan adalah bangun. Dan agar bisa bangun, Anda harus tidur awal pula dan bukannya terjaga hingga larut malam. Jika anak yang lebih kecil bangun malam secara teratur, maka Anda bisa mengatasinya dengan cara tidur lebih awal pula.

4. Ritme tidak berhasil bagi mereka karena terlalu mengganggu dan terlalu padat. Saya katakan pada ibu-ibu ini bahwa mereka harus melihat esensinya. Anda harus menambahkan waktu ekstra untuk membawa keluar 5 anak, waktu ekstra untuk membersihkan bekas makan atau kegiatan lain, serta waktu ekstra lainnya karena anak-anak masih kecil. Ritme bagi saya adalah hal yang sederhana.

Jika kita ingin anak-anak kita tumbuh dengan sehat, salah satu cara untuk memulainya adalah dengan ritme yang damai.

Menurut saya, dalam membangun ritme, ada 3 hal yang harus dipertimbangkan:

1. Membuat ritme untuk diri kita sendiri

2. Membuat ritme untuk seluruh anggota (atau jika ada, hewan peliharaan) di keluarga

3. Membuat ritme untuk mengurus hal-hal di dalam keseharian keluarga kita dan keperluan yang berkaitan dengan mengurus hal-hal tersebut.

Saya memulai ritme pertama kali dengan membuat sebuah tabel sederhana untuk detil kegiatan umum sehari-hari dan kolom di bagian paling kanan adalah untuk catatan spesifik mengenai kegiatan hari itu. Saya harap ini bisa Anda coba terapkan ini sebagai langkah awal!

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sanggar Kaulinan