0

Adipati Karna – Kisah Ksatria yang Hilang Arah

Image            Dahulu kala, diceritakan di dunia perwayangan dalam cerita Mahabrata bagian Adiparwa, hiduplah seorang anak yang kuat dan penuh ambisi, yang kelak akan menjadi pemimpin dan memiliki kekuatan yang tak tertandingi. Dia adalah Karna, lahir dari kedatangan sang dewa matahari, Bathara Surya yang dipanggil ke bumi oleh seorang putri kerajaan Surasena.

Kemampuan untuk memanggil dewa yang dimiliki Kunti, adalah pemberian dari seorang pendeta yang sedang berkunjung ke kerajaan Surasena, bernama Resi Durwasa. Hadiah tersebut bernama Adityahredaya yang konon dapat memanggil dewa dari khayangan untuk mengabulkan apapun permintaan Kunti.

Kunti yang penasaran akan pemberian itu lalu mencoba kesaktian Adityahredaya di sebuah malam. Maka datanglah seorang dewa, bertubuh putih, berparas rupawan dengan cahaya terang di belakangnya, ia terbang menghampiri jendela kamar Kunti dan memperkenalkan diri sebagai Bathara Surya. Kunti yang terkejut dan hampir tidak percaya, meminta Bathara Surya untuk kembali ke khayangan tanpa ada permintaan apapun. Bathara Surya lalu menjelaskan kepada Kunti bahwa Adityahredaya adalah pemberian Bathara Indra, raja dari seluruh dewa, kepada Resi Durwasa akan pengabdiannya kepada khayangan dan bahwa itu bukan sembarang kesaktian yang bisa digunakan untuk coba-coba. Untuk mengatasi kejadian itu, Bathara Surya akhirnya menghadiahkan Kunti seorang putra, tanpa bersetubuh dengannya.

Kunti yang masih belia, walaupun bahagia dianugerahkan seorang anak, malu karena tidak dapat menjelaskan kepada siapapun asal-muasal anak tersebut. Selama sebulan ia pun mengurung diri bersama anak itu di kamarnya karena bingung harus berbuat apa. Kunti setiap hari mengagumi bayi itu, karena parasnya yang rupawan dan elok juga terlahir lengkap dengan pakaian perang dan perhiasan yang indah. Akhirnya, Kunti memutuskan untuk membuang anak itu dengan menaruhnya di sebuah keranjang dan menghanyutkannya ke sungai Aswa. Anak itu dinamakannya Karna.

Setelah membuang anak itu, Kunti menangis tak henti-henti. Ia tak kuasa mengingat kejahatannya karena telah membuang anak pemberian dewa. Terkadang, ia terlihat sedang duduk di bawah pohon rindang di depan kamarnya, menangis sedih.

Sementara, Karna yang hanyut terbawa arus sungai, akhirnya ditemukan dan dibesarkan oleh Adirata, seorang kusir kerajaan Hastinapura – tempat tinggal para Pandawa dan Kurawa – dan kelak dan diberi nama Basusena. Karna yang tumbuh besar sebagai anak kusir kemudian dijuluki Sutaputra, yang artinya anak kusir.

Semakin beranjak dewasa, Karna semakin membenci julukan tersebut dan ingin merubah nasibnya. Karna yang kuat, berpakaian perang lengkap dan perhiasan yang tak bisa dilepaskan dari tubuhnya sejak ia kecil, merasa dirinya tak seharusnya menjadi anak kusir. Setelah bekerja membantu ayahnya, ia suka sekali menghabiskan waktunya dengan berjalan di pinggir tembok kerajaan di tempat prajurit dan ksatria kerajaan belajar bertarung. Ia tertarik dengan keahlian bermain panah dan bertekad untuk menjadi pemanah terbaik di dunia. Ia lalu membuat sendiri sebuah busur panah, anak panah dan sasaran panahnya untuk digunakannya berlatih setiap hari. Melihat kegigihan anak angkatnya, Adirata kemudian membawa Karna ke perguruan Resi Drona, yang saat itu sedang melatih para Pandawa dan Korawa.

Karna dengan penuh semangat membawa busur dan anak panah buatan sendiri, yang kemudian ditolak oleh Resi Drona dengan alasan perguruan tersebut hanyalah untuk kaum kesatria saja. Karna pun pulang dengan sedih, Adirata menyusulnya. Sesampainya di rumah, Adirata tidak menemukan Karna, karena dia telah memutuskan untuk kabur dari rumah, tanpa membawa apa-apa, selain busur dan anak panah buatannya. Karna kabur ke dalam hutan untuk menempa ilmu panahannya disana, ia bertekad untuk menjadi lebih unggul dari para kesatria kerajaan Hastinapura.

Setelah lama berlatih seorang diri di hutan, Karna yang keturunan dewa, kemampuannya meningkat drastis. Ia lalu menemukan seorang guru bernama Parasurama. Konon diceritakan oleh Adirata, Parasurama adalah guru dari Resi Drona dan Bhisma (kakek dari Pandawa dan Kurawa). Ia juga pernah diceritakan oleh Adirata bahwa Parasurama hanya mau mengajarkan para brahmana, kaum pendeta yang tidak mementingkan hal-hal duniawi. Karna telah menutupi pakaian perang dan perhiasannya dan berpura-pura menjadi seorang brahmana, sehingga diterima menjadi murid Parasurama.

Suatu hari, ketika Parasurama tengah tertidur di halaman perguruannya, ada seekor ular yang hendak mengigit kakinya. Melihat kejadian itu, Karna langsung sigap berlari untuk menyelamatkannya. Namun, Karna melihat Parasurama yang begitu kelelahan, sehingga membunuh ular akan membangunkannya. Akhirnya, Karna mengulurkan tangannya dan membiarkan ular tersebut menghisap darahnya. Sampai akhirnya tak sanggup menahan kesakitannya dan mengeluarkan suara teriakan kecil yang membuat Parasurama terbangun. Melihat kejadian itu, ternyata Parasurama mara. Beliau merasa ditipu oleh Karna yang mengaku sebagai Brahmin, dan tidak mungkin ada Brahmin yang sanggup menahan bisa ular, jadi Karna pasti seseorang yang spesial.

Setelah kejadian itu, Karna diusir dan dikutuk oleh Parasurama, bahwa kelak akan ada momen penting bagi penentuan hidup dan matinya, dan Karna akan lupa seluruh hal yang telah diajarkan Parasurama.

Suatu hari, diadakan sebuah pertunjukan adu kehebatan di kerajaan Hastinapura. Pertunjukan itu diadakan sebagai tanda selesainya pengajaran Resi Drona terhadap para Pandawa dan Korawa. Seluruh rakyat hadir menyaksikan siapa yang paling hebat. Setelah melalui berbagai macam sayembara, Arjunalah yang dinobatkan sebagai pemanah paling hebat. Tiba-tiba Karna datang dan menantang Arjuna sambil memamerkan kehebatan memanahnya. Resi Krepa, selaku pendeta istana meminta Karna untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena sayembara ini hanyalah untuk golongan yang sederajat, Karna hanya bisa terdiam.

Duryodana, anak sulung Korawa membela Karna dengan berkata bahwa kehebatan bisa dimiliki siapa saja. Namun peraturan tetap harus ditaati, sehingga Duryodana lalu mendesak Dretarastra, ayahnya, untuk menjadikan Karna raja kerajaan kecil bernama Angga. Karena menurutnya, Karna akan menjadi seseorang yang berguna bagi Korawa untuk menyaingi kehebatan Pandawa. Maka dinobatkanlah Karna sebagai raja kerajaan Angga pada saat itu juga, disaksikan oleh seluruh warga termasuk sang ayah angkat, Adirata yang menangis terharu.

Selain Adirata, ada seorang sosok yang kaget dan terjatuh pingsan melihat penobatan Karna. Ialah Kunti, ibu kandungnya. Setelah membuang Karna, tak lama Kunti menikah dengan Pandu, seorang raja Hastinapura yang mengikuti sayembara kerajaan untuk menikahinya. Pada saat itu, setelah memenangkan sayembara, Pandu ditantang Salya, raja dari kerajaan Madra yang telat datang. Demi mendapatkan kesempatan bertanding, Salya lalu bertaruh untuk memberikan Madri, adiknya, kepada Pandu apabila Salya kalah. Lalu Salya kalah dan Pandu juga menikahi Madri.

Prabu yang memiliki istri dua sekaligus, ternyata tidak bisa memiliki anak. Hal itu membuat Kunti sedih. Maka untuk kedua kalinya, Kunti menggunakan Adityahredaya untuk memanggil dewa dari khayangan. Ia meminta 3 anak dari kandungannya, dan 2 anak dari Madri. Lahirlah Yudhistira dari Bathara Yama, Bima dari Bathara Bayu, dan Arjuna dari Bathara Indra, lalu dari Madri lahirlah 2 anak kembar yang dinamakan Nakula dan Sadewa dari Bathara Aswin. Kelima anak ini dikenal dengan nama Pandawa yang masing-masing memiliki kekuatan luar biasa karena keturunan dewa.

Suasana yang tegang di pertunjukan adu kehebatan Hastinapura diredakan oleh terbenamnya matahari. Namun semenjak saat itu telah terjalin persahabatan yang erat antara Korawa dan Karna, untuk melawan para Pandawa, adik-adik kandungnya yang belum ia ketahui.

(bersambung)

*Cerita disusun oleh Indra Kurnia, gambar diambil dari sini

Advertisements