0

Kai

KaiHalo, namaku Kai. Lengkapnya Kai Amr Iskandar. Umurku 5 tahun. Hobbyku main air dan tempat main favorit tentu saja adalah kolam renang. Aku suka banget main puzzle, dan binatang favoritku adalah tiger. Jadi nanti jangan heran ya kalo tiap kali melihat gambar harimau aku akan teriak dengan penuh semangat “T, Tiger!”

 

Advertisements
0

Catha

IMG-20140609-WA0005

Namaku Adiwignya Catha Wicaksana. Aku biasa dipanggil Catha. Aku lahir tanggal 19 Maret 2009. Sekarang usiaku 5 tahun. Aku suka sekali membaca. Kata ibu, sejak usia 7 bulan aku sudah menarik koran yang sedang dibaca ibuku, lalu membacanya. Hihihi… tentu saja aku belum bisa membaca huruf. Aku cuma senang melihat gambar.

Aku suka cokelat, bakso, yoghurt… tapi kata Ibu, makannya setelah makan nasi. Kalau makan nasi, aku suka pakai tempe. Terutama tempe goreng tepung. Kadang aku juga suka makan tempe bacem. Kalau ibuku sedang menggoreng tempe, aku pasti nyomot satu! *

0

Al

Al

Namaku Khalif Alvaro Krisnaputra Zaidir, cukup dipanggil Al. Aku lahir di Bandung, 20 Mei 2010, kata Mami itu pas Hari Kebangkitan Nasional :). Walau umurku masih 4 tahun, tapi cita-citaku banyak. Aku ingin menjadi pilot, koki, dokter dan pemadam kebakaran.

Aku suka sekali bermain bersama kakakku, Azka. Kami biasanya bermain rumah-rumahan. Kakakku berperan sebagai ibu dan aku, ayah. Kalau sedang tidak bermain rumah-rumahan, aku dan kakak suka menyanyi lagu-lagu kesukaan kami. Nyanyinya sambil berjoget. Seru sekali..!

0

Homemade Apple Butter

Untuk sarapan, saya biasanya membuat menu plan yang sederhana, karena anak saya tidak terbiasa dengan hidangan yang berat di pagi hari. Salah satunya adalah pancake atau roti, yang diolesi dengan apple butter. Bukan cuma anak yang suka, saya juga! ^^ Berikut resepnya, selamat memasak.

apple-butter-13b_thumb

Apple Butter

Prep Time: 20 menit

Cook Time: 3 jam, 20 menit

Total Time: 3 jam, 40 menit

Bahan:

  • 1.3 kg apel masak (malang)
  • 1 cup cuka apel (apple cider vinegar) *boleh tidak digunakan
  • 2 cup air
  • 1 cup penuh gula merah
  • 1/2 sdt garam
  • 2 sdt bubuk kayu manis
  • 1/2 sdt bubuk cengkeh
  • 1/2 sdt pala bubuk
  • 1 sdm air lemon
  • 1 sdt vanila ekstrak (saya pakai 1 batang vanila, dikerok bagian dalamnya)

Cara memasak :

  1. Panaskan oven kira-kira pada suhu 120 C.
  2. Masukkan apel yang sudah dipotong-potong tipis ke dalam panci, campur dengan cuka apel, gula merah dan garam,dengan api medium. Masak hingga mendidih (setengah ditutup) dan masak hingga apel menjadi lembut, kira-kira 20 menit.
  3. Angkat panci dari kompor, kemudian masukkan perasan air lemon, kayu manis, vanila, cengkeh dan pala bubuk ke dalam apel. Aduk terus hingga menjadi seperti pure.
  4. Pindahkan ke pinggan tahan panas, panggang dan keluarkan setiap 30 menit untuk diaduk, sampai menjadi kental dan berwarna kuning agak kecokelatan (sekitar 3 jam).
  5. Keluarkan dari oven, dinginkan lalu pindahkan ke dalam botol kedap udara yang bersih.
  6. Nikmati dengan roti panggang, selamat makan!

*Tahan 5 hari di kulkas .

resep diadaptasi dari sini , gambar dari sini

0

Delapan Aspek dalam Membentuk Kultur Keluarga yang Sehat : Ritme (bag. I)

Ada banyak alasan untuk memiliki ritme dalam keseharian kita. Anak –anak di bawah 7 tahun sangat membutuhkan stabilitas, dan perlu tahu apa yang akan terjadi. Ritme membantu proses psikologi, seperti rasa kantuk dan rasa lapar. Ritme mengajarkan kepada anak-anak bahwa kehidupan rumah itu sebuah tempat yang aman dan orangtuanya bisa diandalkan. Ritme memberi keseimbangan dalam rumah. Ritme bertujuan menempatkan kita dalam konteks yang lebih besar seperti waktu dan musim.

Selain itu, bagi saya, hal terpenting dalam memiliki ritme di keluarga adalah sebagai cara untuk mengungkapkan nilai-nilai keluarga. Sebuah keluarga yang memiliki kebiasaan berkebun, misalnya tentu berbeda dengan keluarga pemusik. Ritme merupakan cara lain bagi kita, sebagai orangtua, untuk menyadari kehidupan keluarga seperti apa yang akan kita ciptakan. Apa dasarnya, apa misi kita dalam membesarkan anak. Awal tahun yang baru merupakan saat yang bagus untuk melihat kembali misi keluarga Anda. Jika tidak memiliki misi keluarga, momen ini juga bisa menjadi awal yang bagus untuk mempertimbangkan dan melaksanakannya.

Saya berbicara pada beberapa orang tua yang menyatakan bahwa membuat ritme itu hal yang sulit. Keluhan dan tantangan ritme bersumber pada beberapa hal:

1. Bahwa ritme terlalu dipaksakan dan dijadwal. Pendapat saya, bisa jadi mereka mencoba membangun ritme yang terlalu rumit. Padahal ritme, berbeda dengan jadwal per menit. Jika hidup yang Anda jalani saat ini adalah mengganti popok, tidur, makan karena Anda memiliki seorang anak dan anak kecil, ritme Anda adalah hal-hal itu. Tidak lebih, kecuali jika Anda pikir perlu menambahkan hal-hal mendasar ke dalamnya.

2. Bahwa ritme itu kaku. Saya pikir ritme justru fleksibel dan dapat berubah sewaktu-waktu, setiap hari dalam seminggu, dan seiring perayaan keagamaan, seiring musim dalam setahun. Ritme juga berubah seiring anak tumbuh dan perubahan kondisi keluarga.

3. Bahwa ritme itu sangat tidak menentu, namun yang tidak mereka katakan adalah ketidakpastian membuat mereka tidak mampu mengatur ritme bagi keluarga mereka.

Memang, langkah awal dalam pembuatan ritme bisa menjadi tantangan bagi para ibu. Kadang memang sulit untuk menjadi pemimpin dan menggerakkan anak dari tiap waktu ke waktu (seperti dari waktu makan ke waktu tidur siang). Namun kian hari, jika dilakukan secara rutin dan kontinyu, akan semakin terbiasa. Pada akhirnya, penolakan terhadap ritme akan berkurang.

Langkah awal ritme bisa berupa bangun pada saat yang sama setiap harinya dan makan pada saat yang sama setiap hari (sekali lagi, dengan tidak menekankan pada menit dan jam yang harus sama,tapi lebih kepada alurnya). Secara alami, kedua hal ini akan menjadikan waktu tidur siang dan tidur malam yang sama pula. Jika ingin anak-anak tidur lebih awal, maka waktu tidur siangnya pun harus lebih awal pula. Apabila ingin membuat keadaan seperti itu, maka yang harus Anda lakukan adalah bangun. Dan agar bisa bangun, Anda harus tidur awal pula dan bukannya terjaga hingga larut malam. Jika anak yang lebih kecil bangun malam secara teratur, maka Anda bisa mengatasinya dengan cara tidur lebih awal pula.

4. Ritme tidak berhasil bagi mereka karena terlalu mengganggu dan terlalu padat. Saya katakan pada ibu-ibu ini bahwa mereka harus melihat esensinya. Anda harus menambahkan waktu ekstra untuk membawa keluar 5 anak, waktu ekstra untuk membersihkan bekas makan atau kegiatan lain, serta waktu ekstra lainnya karena anak-anak masih kecil. Ritme bagi saya adalah hal yang sederhana.

Jika kita ingin anak-anak kita tumbuh dengan sehat, salah satu cara untuk memulainya adalah dengan ritme yang damai.

Menurut saya, dalam membangun ritme, ada 3 hal yang harus dipertimbangkan:

1. Membuat ritme untuk diri kita sendiri

2. Membuat ritme untuk seluruh anggota (atau jika ada, hewan peliharaan) di keluarga

3. Membuat ritme untuk mengurus hal-hal di dalam keseharian keluarga kita dan keperluan yang berkaitan dengan mengurus hal-hal tersebut.

Saya memulai ritme pertama kali dengan membuat sebuah tabel sederhana untuk detil kegiatan umum sehari-hari dan kolom di bagian paling kanan adalah untuk catatan spesifik mengenai kegiatan hari itu. Saya harap ini bisa Anda coba terapkan ini sebagai langkah awal!

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sanggar Kaulinan