0

Resep Cilok Sederhana

Image
Cilok ini salah satu cemilan yang saya suka. Ternyata, setelah hasil trial – error dua kali akhirnya nemu takaran yang pas buat si cilok ini. Berikut resepnya :

1. 150 gram Tepung Sagu
2. 150 gram Tepung Terigu
3. 5 batang daun bawang.
4. 3 siung bawang putih, geprek.
5. Garam secukupnya, sesuai selera
6. Merica Secukupnya, sesuai selera
7. Air Kaldu, secukupnya. (Biasanya saya buat dari rebusan tulang sapi).
8. Daging cincang / Keju / Sosis.
9. Minyak goreng satu sendok makan.

Cara membuat :

  • Didihkan air kaldu dan masukan 3 siung bawang putih kedalam panci ukuran besar, sampai mendidih. Lalu masukan 1 sendok minyak goreng kedalam panci, supaya nanti si cilok tidak saling menempel.
  • Sementara itu campurkan bahan 1,2,3,5 dan 6 dalam wadah berukuran sedang. Setelah itu tambahkan air kaldu sedikit demi sedikit sampai adonan menjadi kalis (tidak menempel ditangan).
  • Setelah semua bahan tercampur, buat bulatan dengan bantuan sendok makan sebagai takaran sehingga adonan terbentuk sama besar (maklum rada perfeksionis untuk urusan bentuk, hehehe). Lalu buat adonan menjadi pipih dan tambahkan daging cincang / Keju / Sosis(pilih salah satu atau mau ‘polosan’ juga sama enak!). Setelah itu, bentuk menjadi bulat atau bentuk lainnya sesuai selera.
  • Masukan kedalam panci air kaldu yang sudah mendidih, biarkan sampai cilok matang, biasanya cilok akan mengambang ketika sudah matang.

Cilok siap disantap bersama saus kacang ataupun cocolan kecap. Untuk resep saus kacang bisa diliat disini yah.

Selamat menikmati 🙂

Advertisements
0

Delapan Aspek dalam Menciptakan Kultur Keluarga yang Sehat : Ritme (bag.2)

Tiga bagian dalam ritme termasuk pembuatan ritme bagi diri Anda sendiri (akan sangat sulit membuat ritme bagi anak dan keluarga, jika Anda sendiri tidak memiliki ritme terhadap segala urusan perhari, perminggu, perbulan bahkan pertahun!), ritme untuk seluruh anggota keluarga (termasuk binatang peliharan jika ada), dan ritme untuk hal-hal di dalam urusan rumah tangga.

Hari ini kita bahas dulu tentang ANDA. Banyak ibu yang mengatakan betapa susahnya membuat dan menerapkan sebuah ritme, mulai dari waktu menidurkan hingga pukul berapa mereka harus bangun.

Untuk bisa bangun dengan keadaan bugar dan mengatur keluarga Anda, istirahat sangat dibutuhkan. Tentu saja, hal ini tidak sesimpel mengatakannya. Terkadang di waktu malam kita lega ketika akhirnya ada waktu untuk ‘bernafas’, atau waktu untuk berdua dengan pasangan, dan sering terlambat bangun karena berurusan dengan hal-hal ini di malam hari : anak mengalami mimpi buruk dan tidak bisa tertidur kembali, balita yang tidurnya resah, atau bayi yang terbangun karena butuh disusui. Hal-hal tersebut yang mengakibatkan kita sulit untuk bangun esok paginya, jika akhirnya bangun kita pun langsung dihadapi dengan setumpuk  hal yang sudah antri untuk segera dikerjakan. Kemudian karena kita bangun terlambat – bersamaan dengan anak-anak bangun- kita akhirnya bahkan tidak sempat mengumpulkan ‘nyawa’ dan mengurus diri sendiri.

Yes, been there and done that ladies. Istirahat adalah jaminan terbaik kita untuk tetap ‘mawas dan waras’. Bangun lalu mulai menyiapkan diri kita, mulai dari mandi, atau anda lebih nyaman dengan mandi di malam hari agar paginya lebih banyak waktu untuk menyiapkan hal lain? apapun itu, yang penting adalah menyiapkan diri sendiri. Waktu untuk merawat diri harus kita selipkan diantara berbagai hal lainnya dalam keseharian. Banyak teman saya yang sudah memiliki lebih dari 1 anak, dan menurut mereka itu sebuah kelebihan, ketika anak-anaknya bermain atau membantu satu sama lain, sehingga lebih mudah membuat ruang dan waktu untuk orang tua merawat dirinya. Jika anda punya pengalaman yang berbeda, tolong di-share ya. Saya senang mendengar perspektif lain tentang hal ini.

Wassalamu’alaikum wr.wb

0

Merawat Diri Sendiri

 Image

Self-love, my liege, is not so vile a sin as self-neglecting.

– William Shakespeare’s Henry V

Saya rasa untuk kebanyakan perempuan, ketika kita berusaha untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, anak-anak, dan pasangan.. kita melupakan diri sendiri. Kita lupa bahwa kita ini adalah seorang individu diluar peran kita sebagai ibu, istri dan pengatur rumah tangga, bahwa kita memiliki eksistensi diri, baik secara batin maupun lahiriah. Begitu seringnya kita mengesampingkan diri di posisi terakhir, atau bahkan tidak ada di dalam daftar sama sekali.

Tolong diingat, jika kita ingin menjadi orang tua yang mawas diri, sebaiknya kita pun mawas dan peduli terhadap diri sendiri dan perawatan diri. Betul, membesarkan anak terutama balita, untuk beberapa tahun pertama, ada kalanya kita menempatkan diri menjadi urutan terakhir, mengurangi ego atau eksistensi diri ketika kita mengasuh anak, tapi TIDAK sampai pada titik dimana eksistensi kita menghilang sama sekali dari gambaran… Mengasuh dan mengurus rumah tangga adalah sebuah jalur tempuh yang harus kita jalani, berjalan loh ya… bukan berlari. Kita harus tetap memelihara dan merawat diri sendiri. Jika kita membiarkan diri terkuras habis, secara fisik, emosi dan spiritual, apa yang terjadi? Kita akan gampang terganggu, kita tidak bisa ‘hadir’ ketika bersama keluarga, dan kita juga akan mengalami kesulitan mengontrol emosi dalam mengasuh anak. I see some nodding heads there 🙂

Yes, i know what u’re all saying…Lalu gimana caranya? Bagaimana mempertahankan kesadaran diri di tengah-tengah kekacauan? karena tinggal bersama anak-anak, secara alami, artinya waktu tidur yang berkurang, kerjaan domestik yang menumpuk, dan banyak hal lainnya yang bahkan bisa terjadi sekaligus bersamaan.

Bagi saya, ada beberapa tingkat di dalam perawatan diri, dilihat dari manusia secara utuh. Pertama, bagaimana kita merawat tubuh kita? Apakah kita berolah raga secara rutin. mengkonsumsi makanan yang sehat dan seimbang gizinya, pergi ke dokter umum dan dokter gigi untuk cek berkala, dan mendapat cukup istirahat? jawabannya itu adalah kunci untuk mencari tahu apakah kita sudah merawat tubuh kita dengan baik. Terkadang kita butuh opini atau bahkan teguran dari orang luar untuk menyadari kita akan kebutuhan untuk merawat tubuh.

Kedua, bagaimana kita menjaga pikiran kita? Apa yang kita lakukan untuk merawat diri diluar sibuk memikirkan tentang pola asuh, rumah tangga, pendidikan anak? Apa yang menjadi passion kita sebelum memiliki anak? Apakah hal itu masih menjadi sesuatu yang menarik bagi kita? Jika tidak, apa yang menjadi ketertarikan kita sekarang?

Ketiga, bagaimana kita merawat sisi spiritual kita? Apakah melalui meditasi, shalat, menjadi bagian dari sebuah komunitas beragama, menjadi bagian dari komunitas yang mempunyai visi dan misi yang sama. Siapa yang menjadi sandaran kita dalam hidup, ketika anda butuh teman, atau seseorang yang sekedar mendengarkan curhatan anda? Siapa sahabat sejati anda? Hal-hal inilah yang menjadi nutrisi bagi sisi spiritual dan menjadi penopang dalam perjalanan hidup kita.

Ada beberapa orang tua yang sudah secara cermat membuat ritme bagi keseharian anak-anaknya, tapi lupa memasukkan pola perawatan diri ke dalamnya. Kita tidak mencoba meminta bantuan keluarga atau orang terdekat, kadang karena anak-anak tidak mau dititipkan pada orang lain saat kita perlu pergi ke dokter, atau pasangan kita sering bepergian, orang tua kadang tidak menganggap perawatan diri sesuatu yang penting karena hanya sekali anak-anak kita ada dalam fase balita..begitu banyak hal-hal yang menjadi pertimbangan.

Jika ada satu hal pada level fisik yang saya ingin para ibu (atau Ayah yang mengasuh anaknya) untuk selalu mengingatnya, yaitu tidur dan olahraga. Walaupun terkadang kita tidak bisa mengontrol waktu tidur kita, karena balita atau bayi yang terbangun di malam hari, cobalah untuk mendapat tidur yang cukup. Saya ingat ada teman yang pernah bercerita, setiap mendengar anaknya bermain dengan berteriak, dia selalu merasa terganggu dan akhirnya meluapkan emosinya pada sang anak. Padahal dia tahu, lumrah sekali untuk anak melakukan itu dan bahwa dia merasa emosi karena kurang tidur! Ada sebuah artikel tentang bagaimana kurangnya tidur, bisa menyebabkan depresi berat. Bagaimana dengan anda? Saya akan senang jika anda mau berbagi pendapat, cerita atau saran ketika anda dalam situasi seperti ini.

Dan untuk olahraga… entah itu yoga atau jogging sekitar kompleks, saya harap anda bisa melakukannya sendirian, tanpa ada anak-anak di sekeliling anda. Tidak perlu menjadi member gym atau mengikuti kelas yoga yang umumnya berharga di atas rata-rata. Cukup luangkan waktu 15 menit di pagi hari sebelum anak terbangun, dan bisa menggunakan me time anda untuk berolahraga (saya sendiri selalu berusaha melakukannya rutin sebelum shalat subuh) Waktu olahraga ini bisa ditambah dengan ketika kita berjalan pagi atau sore dengan anak, bersepeda keliling, melakukan pekerjaan domestic yang tentu saja membakar kalori!

Pada aspek spiritual, saya harap para ibu (dan sekali, ayah) bisa menemukan sebuah aktifitas atau dukungan yang bisa membantunya memenuhi kebutuhan ini. Untuk saya pribadi, shalat rutin dan mengkaji Al-Quran lebih dari cukup untuk menjadi nutrisi bagi sisi spiritual saya. Meditasi saat subuh, sesaat setalah shalat juga membantu saya mendapatkan ketenangan dan inner centering, ketika menghadapi konflik atau situasi dimana anak sedang moody. Tidak gampang memang pada awalnya, but its really worth to try.

Apapun yang akan anda lakukan dalam mencoba memperhatikan perawatan diri sendiri, please be gentle to yourself, mulai dengan langkah kecil yang memang sanggup anda lakukan. Coba dengan menulis 1 hal apa yang mau anda lakukan setiap pagi, saat bangun tidur, tulis di post-it dan tempel di tempat yang bisa anda lihat langsung setiap pagi. Good luck!

*gambar dari sini

0

Pelembut (scrub) Bibir

Bulan puasa, jika saya kurang minum saat sahur biasanya bibir saya akan kering saat siang hari. Solusinya? tinggal apply pelembut bibir favorit saya dan pijat di bibir dengan gerakan memutar lalu diseka dengan air, gampil! Tinggal bikin kok, gak perlu nyoba segala macam merk. Eh, tapi jangan dijilat ya, batal dong nanti puasanya… 😉

Image

tips:

*adonan ini bisa disimpan di wadah kedap udara (saya pakai wadah kecil yang ada di travelling toiletries kit), tapi karena tanpa pengawet, bikin dalam porsi kecil untuk beberapa hari aja ya, nanti keburu bulukan!

Resep dan gambar dari sini

0

Adipati Karna – Kisah Ksatria yang Hilang Arah

Image            Dahulu kala, diceritakan di dunia perwayangan dalam cerita Mahabrata bagian Adiparwa, hiduplah seorang anak yang kuat dan penuh ambisi, yang kelak akan menjadi pemimpin dan memiliki kekuatan yang tak tertandingi. Dia adalah Karna, lahir dari kedatangan sang dewa matahari, Bathara Surya yang dipanggil ke bumi oleh seorang putri kerajaan Surasena.

Kemampuan untuk memanggil dewa yang dimiliki Kunti, adalah pemberian dari seorang pendeta yang sedang berkunjung ke kerajaan Surasena, bernama Resi Durwasa. Hadiah tersebut bernama Adityahredaya yang konon dapat memanggil dewa dari khayangan untuk mengabulkan apapun permintaan Kunti.

Kunti yang penasaran akan pemberian itu lalu mencoba kesaktian Adityahredaya di sebuah malam. Maka datanglah seorang dewa, bertubuh putih, berparas rupawan dengan cahaya terang di belakangnya, ia terbang menghampiri jendela kamar Kunti dan memperkenalkan diri sebagai Bathara Surya. Kunti yang terkejut dan hampir tidak percaya, meminta Bathara Surya untuk kembali ke khayangan tanpa ada permintaan apapun. Bathara Surya lalu menjelaskan kepada Kunti bahwa Adityahredaya adalah pemberian Bathara Indra, raja dari seluruh dewa, kepada Resi Durwasa akan pengabdiannya kepada khayangan dan bahwa itu bukan sembarang kesaktian yang bisa digunakan untuk coba-coba. Untuk mengatasi kejadian itu, Bathara Surya akhirnya menghadiahkan Kunti seorang putra, tanpa bersetubuh dengannya.

Kunti yang masih belia, walaupun bahagia dianugerahkan seorang anak, malu karena tidak dapat menjelaskan kepada siapapun asal-muasal anak tersebut. Selama sebulan ia pun mengurung diri bersama anak itu di kamarnya karena bingung harus berbuat apa. Kunti setiap hari mengagumi bayi itu, karena parasnya yang rupawan dan elok juga terlahir lengkap dengan pakaian perang dan perhiasan yang indah. Akhirnya, Kunti memutuskan untuk membuang anak itu dengan menaruhnya di sebuah keranjang dan menghanyutkannya ke sungai Aswa. Anak itu dinamakannya Karna.

Setelah membuang anak itu, Kunti menangis tak henti-henti. Ia tak kuasa mengingat kejahatannya karena telah membuang anak pemberian dewa. Terkadang, ia terlihat sedang duduk di bawah pohon rindang di depan kamarnya, menangis sedih.

Sementara, Karna yang hanyut terbawa arus sungai, akhirnya ditemukan dan dibesarkan oleh Adirata, seorang kusir kerajaan Hastinapura – tempat tinggal para Pandawa dan Kurawa – dan kelak dan diberi nama Basusena. Karna yang tumbuh besar sebagai anak kusir kemudian dijuluki Sutaputra, yang artinya anak kusir.

Semakin beranjak dewasa, Karna semakin membenci julukan tersebut dan ingin merubah nasibnya. Karna yang kuat, berpakaian perang lengkap dan perhiasan yang tak bisa dilepaskan dari tubuhnya sejak ia kecil, merasa dirinya tak seharusnya menjadi anak kusir. Setelah bekerja membantu ayahnya, ia suka sekali menghabiskan waktunya dengan berjalan di pinggir tembok kerajaan di tempat prajurit dan ksatria kerajaan belajar bertarung. Ia tertarik dengan keahlian bermain panah dan bertekad untuk menjadi pemanah terbaik di dunia. Ia lalu membuat sendiri sebuah busur panah, anak panah dan sasaran panahnya untuk digunakannya berlatih setiap hari. Melihat kegigihan anak angkatnya, Adirata kemudian membawa Karna ke perguruan Resi Drona, yang saat itu sedang melatih para Pandawa dan Korawa.

Karna dengan penuh semangat membawa busur dan anak panah buatan sendiri, yang kemudian ditolak oleh Resi Drona dengan alasan perguruan tersebut hanyalah untuk kaum kesatria saja. Karna pun pulang dengan sedih, Adirata menyusulnya. Sesampainya di rumah, Adirata tidak menemukan Karna, karena dia telah memutuskan untuk kabur dari rumah, tanpa membawa apa-apa, selain busur dan anak panah buatannya. Karna kabur ke dalam hutan untuk menempa ilmu panahannya disana, ia bertekad untuk menjadi lebih unggul dari para kesatria kerajaan Hastinapura.

Setelah lama berlatih seorang diri di hutan, Karna yang keturunan dewa, kemampuannya meningkat drastis. Ia lalu menemukan seorang guru bernama Parasurama. Konon diceritakan oleh Adirata, Parasurama adalah guru dari Resi Drona dan Bhisma (kakek dari Pandawa dan Kurawa). Ia juga pernah diceritakan oleh Adirata bahwa Parasurama hanya mau mengajarkan para brahmana, kaum pendeta yang tidak mementingkan hal-hal duniawi. Karna telah menutupi pakaian perang dan perhiasannya dan berpura-pura menjadi seorang brahmana, sehingga diterima menjadi murid Parasurama.

Suatu hari, ketika Parasurama tengah tertidur di halaman perguruannya, ada seekor ular yang hendak mengigit kakinya. Melihat kejadian itu, Karna langsung sigap berlari untuk menyelamatkannya. Namun, Karna melihat Parasurama yang begitu kelelahan, sehingga membunuh ular akan membangunkannya. Akhirnya, Karna mengulurkan tangannya dan membiarkan ular tersebut menghisap darahnya. Sampai akhirnya tak sanggup menahan kesakitannya dan mengeluarkan suara teriakan kecil yang membuat Parasurama terbangun. Melihat kejadian itu, ternyata Parasurama mara. Beliau merasa ditipu oleh Karna yang mengaku sebagai Brahmin, dan tidak mungkin ada Brahmin yang sanggup menahan bisa ular, jadi Karna pasti seseorang yang spesial.

Setelah kejadian itu, Karna diusir dan dikutuk oleh Parasurama, bahwa kelak akan ada momen penting bagi penentuan hidup dan matinya, dan Karna akan lupa seluruh hal yang telah diajarkan Parasurama.

Suatu hari, diadakan sebuah pertunjukan adu kehebatan di kerajaan Hastinapura. Pertunjukan itu diadakan sebagai tanda selesainya pengajaran Resi Drona terhadap para Pandawa dan Korawa. Seluruh rakyat hadir menyaksikan siapa yang paling hebat. Setelah melalui berbagai macam sayembara, Arjunalah yang dinobatkan sebagai pemanah paling hebat. Tiba-tiba Karna datang dan menantang Arjuna sambil memamerkan kehebatan memanahnya. Resi Krepa, selaku pendeta istana meminta Karna untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena sayembara ini hanyalah untuk golongan yang sederajat, Karna hanya bisa terdiam.

Duryodana, anak sulung Korawa membela Karna dengan berkata bahwa kehebatan bisa dimiliki siapa saja. Namun peraturan tetap harus ditaati, sehingga Duryodana lalu mendesak Dretarastra, ayahnya, untuk menjadikan Karna raja kerajaan kecil bernama Angga. Karena menurutnya, Karna akan menjadi seseorang yang berguna bagi Korawa untuk menyaingi kehebatan Pandawa. Maka dinobatkanlah Karna sebagai raja kerajaan Angga pada saat itu juga, disaksikan oleh seluruh warga termasuk sang ayah angkat, Adirata yang menangis terharu.

Selain Adirata, ada seorang sosok yang kaget dan terjatuh pingsan melihat penobatan Karna. Ialah Kunti, ibu kandungnya. Setelah membuang Karna, tak lama Kunti menikah dengan Pandu, seorang raja Hastinapura yang mengikuti sayembara kerajaan untuk menikahinya. Pada saat itu, setelah memenangkan sayembara, Pandu ditantang Salya, raja dari kerajaan Madra yang telat datang. Demi mendapatkan kesempatan bertanding, Salya lalu bertaruh untuk memberikan Madri, adiknya, kepada Pandu apabila Salya kalah. Lalu Salya kalah dan Pandu juga menikahi Madri.

Prabu yang memiliki istri dua sekaligus, ternyata tidak bisa memiliki anak. Hal itu membuat Kunti sedih. Maka untuk kedua kalinya, Kunti menggunakan Adityahredaya untuk memanggil dewa dari khayangan. Ia meminta 3 anak dari kandungannya, dan 2 anak dari Madri. Lahirlah Yudhistira dari Bathara Yama, Bima dari Bathara Bayu, dan Arjuna dari Bathara Indra, lalu dari Madri lahirlah 2 anak kembar yang dinamakan Nakula dan Sadewa dari Bathara Aswin. Kelima anak ini dikenal dengan nama Pandawa yang masing-masing memiliki kekuatan luar biasa karena keturunan dewa.

Suasana yang tegang di pertunjukan adu kehebatan Hastinapura diredakan oleh terbenamnya matahari. Namun semenjak saat itu telah terjalin persahabatan yang erat antara Korawa dan Karna, untuk melawan para Pandawa, adik-adik kandungnya yang belum ia ketahui.

(bersambung)

*Cerita disusun oleh Indra Kurnia, gambar diambil dari sini

0

Dry Shampoo

Image

Saya mulai berhenti menggunakan beberapa produk perawatan tubuh yang komersil sejak akhir tahun kemarin. Salah satunya adalah mengganti shampoo yang biasa saya beli di supermarket, dengan shampoo kering buatan sendiri. Hasilnya? banyak! waktu saya tidak banyak terbuang dengan keramas setiap hari. Saya jadi teringat sewaktu jaman kuliah, ada teman satu kos yang selalu saya komplain karena dia jarang keramas, jawabnya ;” Tau nggak, keramas tiap hari itu merusak kulit kepala dan rambut kita, karena minyak yang diproduksi alami oleh tubuh supaya jaga rambut dan kulit kepala tetap sehat, malah jadi ilang!”. Tentu saja, saat itu reaksi saya adalah mencemoh dia, yang saya anggap pemalasan saja, hehehe.. Ternyata, apa yang dikatakannya itu benar.

Jadi, sejak tahun lalu, saya mencoba menerapkan kebiasaan baru untuk diri sendiri dulu saat ini, supaya ketika meyakinkan keluarga, saya sudah tahu mannfaatnya, dan bisa dilihat sendiri buktinya. Mau coba membuat dry shampoo sendiri? gampang sekali, dan tinggal menyisihkan sebagian bahan baku di dapur kita. Berikut resepnya :

2 sdm baking soda/ ubi garut

2 sdm tepung maizena

2 sdm tepung beras

6-10 tetes esensial oil (any scents you like)

sekarang, campur rata kedua bahan, dan simpan dalam toples yang kedap udara di suhu ruangan.

Cara pemakaian :

Tuangkan dan ratakan ke seluruh telapak tangan (seperti saat mengoleskan lotion) atau lebih praktis menggunakan toples tabur seperti tempat garam dan merica dengan lubang-lubang kecil (saya pakai tempat bekas baking soda), oles atau taburkan langsung ke akar rambut, lalu pijat dengan lembut dengan 2 jari mulai dari tengkuk hingga ke ubun-ubun (ini bagian esensial loh, don’t skip the sculp massage ya). Lalu sisir rambut dengan jari sampai merata. Diamkan sekitar 5-10 menit, kemudian sisir dengan sisir biasa, supaya bubuknya berbaur dengan rata. And you’re done!

tips:

* sesuaikan takaran penggunaan dengan volume rambut Anda, untuk pribadi, saya mengaplikasi sekitar 5-6 kali.

* karena rambut yang berwarna gelap, saya suka menambahkan kayu manis/kopi bubuk ke dalam campuran, it added a nice scents too 🙂 itu opsional kok, kalau mau meneteskan esens favorit juga bisa!

*tidak perlu menggunakan semua bahan baku yang saya tulis di atas, jika hanya punya baking soda dan maizena saja di dapur, by all means, you can make one too!

Selamat mencoba!

 

*resep dan gambar dari sini

 

0

Ramadan

ramadan-morocco

Lebaran sebentar lagi, berpuasa sekeluarga. sehari penuh yang sudah besar, setengah hari yang masih kecil!

Lagu itu yang selalu saya ingat ketika menjelang bulan Ramadan, dan saya nyanyikan bersama si kecil untuk membawa nuansa Ramadan dari awal.  Bagaimana dengan Anda? ritme dan kebiasaan apa yang biasa Anda terapkan di dalam keluarga dalam menyambut bulan suci ini?

Biasanya Ramadan identik dengan waktu berbagi, dengan fakir miskin dan orang- orang sekitar kita yang membutuhkan. Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, saya juga mau berbagi dengan Anda semua, sebuah bagan puasa  atau bahasa kerennya mah fasting chart. blog.JannahSteps.com sering memberikan resources gratis yang bermanfaat buat saya, jazakallah! Chartnya tinggal diprint, ditempel di kulkas atau tempat yang gampang terlihat di rumah, dan dipakai selama bulan puasa. Agar si kecil semangat latihan puasanya dengan liat bintang-bintangnya tiap hari tambah banyak! Semoga bermanfaat ya.